Selasa, 24 Mei 2011

Wilayah Peran Politik Muslimah

Pagi itu, Sabtu (21/5) hapeku bergetar ada sms, setelah sms dibaca hatikulah yang jadi bergetar sekarang. Isi sms itu memberitahukan bahwa seorang da'iyah Ustadzah Yoyoh Yusroh (Aleg DPR dari Fraksi PKS) meninggal dalam kecelakaan di tol tadi pagi. Innalillahi wa inna ilahi ro'jiun... seorang syahidah tanggukh telah beristirahat di peraduannya yang nyaman... Teringat saya dengan pertemuan dengan ustadzah Yoyoh ketika berorasi tentang perdamaian Timur Tengah di Monas saat aksi damai Timur Tengah yang dilaksanakan oleh Partai Kita Semua beberapa saat yang lalu... Subhanallah aku hanya bisa takjub melihat refleksi ruh para sahabiyah terpancar dalam diri Ustadzah Yoyoh Yusroh.... Selamat beristirahat Ustadzah...doakan aku juga bisa sepertimu...amiin. Ini artikel yang pernah ditulis almarhum.... Mari diambil pelajarannya...

Ada empat peran wilayah politik muslimah, yang kesemuanya mempunyai kekuatan untuk dilaksanakan, ialah bai’at ( janji setia ), alwilayat al ammah ( kekuasaan umum ), syuro ( prinsip musyawarah ).

a) Bai’at ( janji )

Bai’at merupakan janji setia terhadap system politik Islam, atau kekhalifahan Islam, serta kesetiaanya kepada jamaah kaum muslimin. Bai’at juga merupakan janji seyia manusia yang mencakup tiga pihak, yaitu khilafah sendiri, pelaku bai’at (ummat), dan sesuatu yang di bai’ati, yaitu syari’at agama. Tanggung jawab tidak terhenti pada bai’at saja tet6api berlanjut pada tanggung jawab mengemban penjagaan terhadap syari’ah dan penetapannya melalui institusi syuro, pengawasan terhadap penguasa, memberikan naseha apabila penguasa menyimpang, dan mencopot penguasa bialaman dieprlukan.
Komitmen ini melahirkan agen-agen pemberdayaan yang sangat dibutuhkan masyarakat. Mereka bekerja bagi kemaslahatan masyarakat berdasarkan kesadaran akan kewajiban sebagai khalifatullah fil ardh, dan keyakinan akan pertolongan Allah kepada mereka yang menegakkan Dinnullah. Sehingga orientasi mereka dalam bekerja jauh dari Vested interest, yang dalam kenyataannya sering menggerogoti efektifitas pemberdayaan itu sendiri . inilah political will paling asasi yang seharusnya dimiliki terutama oleh setiap elemet pembuat kebijakan, sehingga dapat menjamin keberpihakkan kepada masyarakat luas.
Sudah menjadi pemahaman public bahwa tingkat korupsi yang tinggi saat ini adalah kendala terbesar upaya pemberdayaan masyarakat . berapa banyak dana yang tak sampai sasaran, berapa banyak kebijakan yang tak berkeadilan, bahkan tak menunjukan keberpihakkan kepada masyarakat yang terlibat krisis ini . masalahnya adalah pada komitmen para penyelenggara Negara, para pembuat kebijakan . sebagus apapun desain system kehidupan berbangsa dan bernegara ini dibuat, tanpa adanya komittmen yang kokoh berlandasakan rasa tanggung jawab terhadap Allah SWT – dari para aparatanya, maka tetap saja bangsa ini berjalan ditempat, bahkan semakin melemah karena berbagai sumber dayanya dikeruk untuk kepentingan segelintir orang .
Disinilah signifikasi bagi seorang ukhti muslimah, karena ummat dan bangsanya membutuhkannya .

b. Al Wilayah Al ‘Ammah ( Kekuasaan Umum )

Al Wilayah Al ‘Ammah ( Kekuasaan Umum ), menurut Hasaan Husain al syarafi adalah kekuasaan yang diberikan oleh syari’at kepada orang yang memandangnya sehingga ia mampu membuat perjanjian-perjanjian dan tindakan yang terus dapat diberlakukan tanpa menggantungka diri kepada izin seseorang . konsep kekuasaan yang dimaksud berbeda dengan tugas . kekuasaan umum bersumber kepada kekuatan syari’at yang tidak boleh bercampur dengan hawa nafsu tujuan – tujuan tertentu . kekuasaan ini seperti kekuasaan besar (kekhalifahan), kekuasaan kehakiman, badan pengawas dan kekuasaan legislative, yang semuanya termasuk dalam wajib kifayah .kekuasaan ini juga bukan diminta atau dicari oleh seseorang melainkan amanat dan tanggung jawab. Kekuasan umum mengahruskan adanya kompetensi yang khusus, dan sesungguhnya diantara wanita ada yang memiliki komtensi tersebut dan berhak untuk menganggung beban tanggung jawab fatdhu kifayah ini.
Hal yang perlu dicata disini adalah, terjunnya para musliamh tersebut adalah bertitik tolak dari komitmen sesuai dengan bai’atnya untuk beramal jama’I, sehingga ia dituntut untuk memiliki amanah potensi. Maksudnya adaloah seoarng ukhti muslimah harus menjaga kesadaranya, bahwa profesi ataupun peran yang digelutinya adalah sebuah amanah ummat, yang seyogyanya dapat diukur tingkat kontribusinya terhadap upaya ishlah dari waktu ke waktu .

c. Prinsip Musyawarah

tanggung jawab wanita dalam prinsip syuro sesuai dengan persoalan-persoalan syuro yang bermacam-macam .

1) Wanita diperbolehkan dalam masalah legislasiyang memiliki nuansa kefikihan, karena telahn disepakati bersama bahwa wanita mempunyai hak berijtihad dan memberikan fatwa sebagaimana dalam wilayah umum yang bersifat fardhu kifayah .
2) Wanita boleh berpartisispasi dalam syuro yang berkaitan dengan persoalan – persoalan ilmu pengetahuan yang sangat spesifik kalau dianggap bahwa pengalaman dan kompetensi itu dimiliki olehnya, hal ini termasuk wajib kifayah .
3) Wanita boleh berpartisipasi dalam syuro yang berkaitan dengan masalah umum sebagai individu Anggota, partisipasi wajib ‘ain .
4) Wanita boleh berpartisipasi dalam syuro yang berkaitan dengan masalah kelompok elite tertentu yang partisipasinya didasarkan kepada haknya dalam profesinya dan atas dasar pemberian nasihat dalam masalah yanga sangat terbatas, berkaitan dengan kelompokyang memiliki kepentingan khusus .

Para shahabat menyaksikan perilaku Rosulullah yang mulia secara langsung yang berkaitan dengan wanita pada zaman itu, yaitu menampung serta menerima utusan wanita yang mengemukakan berbagai masalah yang berhubungan dengan wanita selain uti para tokoh shahabat seperti Ummar Bin Khotob, sering meminta pendapat wanita untuk menetapkan berbagai keputusan . oleh sebab itu pendapat kaum wanita dalam masyarakata Islam modern perlu ditampung dalam institusi atau organisasi yang dapa menyuarakan pendangan mereka.

d. Berjihad

peperangan atau jihad dalam Islam merupakan fardhu kifayah, menurut jumhur fuquha, apabila sebagian orang melakukannya gugurlah kewajiban sebagian yang lain. Jika orang yang mempunyai kemampuan tidak melakukannya maka semua orang berdosa.Perang merupakan suatu kewajiban apabila musuh telah memasuki wilayah kaum muslimin. Selainitu pengawasan terhadap pemegang kekuasaandan meluruskannya merupakan fardhu kifayah bagi orang yang mempunyai kompetensi untuk melakukan ijtihad, dan juga para Anggota lembaga perwakilan rakyat ( ahl al hall wa al’aqd ) yang mempunyai hak untuk membatalkan bai’at terhadap pemegang kekuasaan dan mencopotnya apabila dianggap melanggar syari’at Islam. Ketika pembebasan berbagai struktur di dalam masyarakat merupakan gerakan yang memerlukan partisipasi dalam mewujudkan taraf hidup mereka, maka partisipasi kaum wanita merupakan keharusan. Bahkan terjadi konsesus ( ijma’) yang mewajibkan wanita untuk melakukan peperangan ketika musuh yang memasuki wilayah Islam dan terjadi mobilisasi umum. Bahkan sebagian ulama mengatakan wanita harus berperang tanpa harus izin kepada suaminya, apabila amar ma’ruf nahyi munkar diwajibkan atas setiap orang mu’min wanita berdasarkan QS 9:72 “ Orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi pemimpin atas sebagian yang lain. Mereka menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran”.
Dengan demikian, kaum wanita pada zaman ini wajib melakukan peperangan yang hukumnya fardhu ain, serta menjalankan amal ma’ruf nahyi munkar dengan berbagai tingkatannya. Sebagaimana terjadi pada masa Rosululloh, baik dalam memegang senjata, melayani kepentingan para pejuang, ataupun menjadi dokter militer. Melihat kepentingan ini seharusnya Negara menyediakan sarana latihan militer, pelatihan perang yang berbagai macam bagi wanita yang mampu melakukannya, disamping menyediakan sarana pelatihan pertahanan umum bagi seluruh wanita. Tujuannya agar wanita mempunyai keahlian perang apabila hokum perang meningkat menjadi fardhu ain atau setiap orang,ketika Negara islam sudah tidak mampu lagi mengiasai musuhnya. Dan begitulah yang terjadi di Negara-negara Islam saat ini.
Hal yang perlu disiapka dalam berjihad adalah kemampuan operasional melalui rekrutmen selekitf para muslimas sebagaimana dicontohkan oleh para shohabiyyat, berpeluang bahkan wajib memiliki kesiapan untuk turun ke medan jihad. Dalam konteks kondisi kontemporer barbagai ilmu dan keterampilan yang menunjang perlu dikuasai seperti kemampuan bela diri, medis, psikiatri, persenjataan, strategi militer, elektronika, komunikasi dan informatika, serta berbagai tehnologi strategis lainnya. Para muslimah yang mampu menguasai nernagai ilmu dan keterampilan tersebut insya Allah mendapatkan pahala yang lebih besar sebab mengerjakan hal-hal yang seharusnya adalah kewajibwn laki-laki.

“Main-Main” ke BEI…keren booo (Pengalaman Selama Audit Diorama 2)

MasyaAllah.... sudah sangat lama sekali...tidak berposting ria di blog ini...(menyedihkan memang)...banyak ide dan cerita namun tidak tertuang dalam tulisan...hiks...
lets see the future...hehe. alhamdulillah beberapa hari yang lalu ada sedikit cerita yang bisa dishare... ini pengalaman yang kudapat saat audit (lagi)... lets check it out...

Jujur ini baru pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke sebuah gedung tower apalah gitu namanya…di kawasan sudirman tempat jual beli saham Indonesia…haha ndeso sih, tapi emang ini pertama kali (daripada belum pernah sama sekali hayo).

Awalnya pas diturunin di trotoar yang beratap, aku sudah merasa gedung ini keren banget dan suasananya mirip di luar negeri gitu (hehe padahal sih belum pernah ke luar negeri sama sekali). Lah itu dia, aku merasa bukan di Indonesia….karena gedung dan sekitarnya tertata rapi, bersih banget, dan orang-orang yang hilir mudik semua terlihat seperti eksmud-eksmud gitu, sekali dua kali juga terlihat bule mondar-mandir. Nah ini dia, serasa di negeri mana gitu…gak jauh-jauh deh misalnya di Singapore gitu (sekali lagi gaya, padahal belum pernah ke Singapore)…

Kata seorang teman yang bersamaku ke gedung BEI itu, disini perputaran uangnya cepat, dalam waktu seminggu aja kamu bisa dapet 10juta rupiah…sehari cuma 3 jam kerjanya,,,wdew… ngiler sih…Tapi ya…karena wong ndeso kali ya…aku tidak terlalu nyaman berada di lingkungan seperti itu. Walupun kelihatannya eksmud-eksmud itu pinter dan tajir. Tapi sungguh oh sungguh (halah lebai..) itu bukan duniaku…hehe kepedean. Ya.. dicari pengalamannya aja.

Keluar dari daerah elite Sudirman, mobil yang kutumpangi menuju daerah Kramat Jati. Dan dalam sekejap aku merasa sudah berada di Negara Indonesia…(haha), apa tanda-tandanya? Banyak, misalnya saja jalannya sudah mulai merayap karena banyak angkot dan bis yang berhenti sembarangan, kawasan kiri kanan jalan yang terlihat semrawut, pasar-pasar tradisional yang ada di kiri jalan (saat itu sudah ada ikan-ikan segar yang di pajang di pinggir jalan padahal masih sore lhooo) dan itulah sebenarnya wajah Indonesiaku. Kontras sih sebenarnya, kalau membandingkan seorang eksmud yang sedang sibuk mencet-mencet blackberrynya sambil menunggu jemputan E230 Kompresor berhenti di depannya (ngayal.com) dibandingkan dengan seorangg ibu berpakaian sederhana tampak sabar menunggui jualan nasi ramesnya di pinggir sebuah pasar tradisional di daerah Kramat Jati… Yah itulah realita kehidupan sosial sist dan bro tepatnya kesenjangan sosial (yoi…yoi). Tidak usah jauh-jauh mungkin di sekitar atau di lingkungan rumah kita sendiri ada jarak antara si miskin dengan si kaya, dapat dilihat dari tempat berteduh (baca: rumah) yang penampakannya terlihat jomplang, yang satu elite dalam artian sebenarnya dan yang satu lagi elit alias ekonomi sulit. Begitulah kesenjangan sosial yang sangat terlihat mencolok di negeri tercintaku ini, ya mungkin karena statusnya masih berkembang menuju kemajuan kali ya. Sudah saatnya yang kaya lebih memperhatikan yang miskin, bukan hanya bekerja memperkaya diri namun juga mensejahterkan yang lain. Jadi ingat masa-masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kapan ya Indonesia bisa seperti itu??? insyaAllah bisa…mari bekerja keras untuk Indonesia!!!!

Ah begitulah pengalaman perjalananku hari ini ke BEI, untuk urusan apa? Ya kalian tahu sendirilah pekerjaanku apa…bukan broker kok,,,heheh…

Mungkin itu pengalaman pertama dan terakhir aku ke BEI…ya sekali aja cukuplah untuk menambah khazanah kehidupan, sekalian pemanasan kalau ke luar negeri…(he)


Kamis, 17 Maret 2011

Kenapa Aku Diuji?

Kenapa aku diuji?

Al Ankabut 2-3

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “Kami telah beiman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mngetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Kenapa aku tidak mendapatkan apa yang aku idam-idamkan?

Al Baqarah: 216

… tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Kenapa ujian seberat ini?

Al Baqarah: 286

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan di mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa),” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kmi lupa atau kami melakukan kesalahn. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Ruhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak snggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampinilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, mak tolonglah kami menghadapi orang kafir.

Rasa Frustasi?!

Ali Imran: 139

Dan jaganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orng beriman.

Bagaimana aku harus menghadapinya?

Ali Imran: 200

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Al Baqarah: 45

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Apa yang aku dapat dari semua ini?

At Taubah: 111

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang paling menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukakn itu dan demikikan itu kemenangan yang agung.

Kepada siapa aku berharap?

At Taubah: 129

Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memilki ‘Arsy (singgasana) yang agung.

Aku tak dapat bertahan lagi!!!

Yusuf: 87

….jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yng kafir.

An Nisa: 86

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh Allah memperhitungkan segala sesuatu.

Kamis, 24 Februari 2011

Sebuah Pelajaran dalam Perjalanan…

(Heboh…Heboh si sakazakii…)

Siang itu tanggal 17 Februari 2011 pukul 14.30, Tol Padalarang cerah ceria alias panas banget. Padahal di dalam Avanza ber AC volume 2, tapi kok ngerasa panas aja ya…ada yang ngomongin kali ya…(haha). Perjalanan dari Kota Kembang menuju Kota Angkot siang itu tidak cukup melelahkan, karena aku dan rekanku Bu Farah cukup duduk manis dalam sebuah mobil yang melaju dalam kecepatan kurang lebih 90 Km/jam sambil memandangi pemandangan bukit-bukit di sekitar tol yang hijau, dan sebagian juga sudah tandus gersang.

Namanya ibu-ibu, maka sepanjang perjalanan ya…ngobrol, apalagi Bu Farah ini baru punya bayi yang lahir 3 bulan lalu, jadiah setelah 4 kali audit bareng Bu Farah kami berdua pun lumayan semakin dekat (iya gak Bu?). Topik obrolan siang ini adalah tentang berita heboh yang akhir-akhir ini muncul di TV, awalnya memang Bu Farah yang membuka pembicaraan tentang susu formula. Hmmm…jujur aja pas ditanya Bu Farah aku pun nggak begitu ngeh seheboh apa pemberitaan di TV. Maklum TV di kosan cuma jadi pajangan alias gak sempet nonton berita, timingnya gak pas sih buat aku…(hehe sok sok sibuk). Jadi selama ini pemberitan tentang susu formula berbakteri ya… ala kadarnya aku lihat di internet.

Jadi ceritanya Bu Farah ini kan baru punya bayi (laki-laki namanya Adam) dan tentu saja sekarang lagi masa menyusui begitu. Empat kali audit bareng Bu Farah, ada kalanya si Ibu bilang “Waduh ini saatnya menyusui nih…” Padahal pas itu lagi audit lho…, trus dengan polosnya aku bertanya “ Kok bisa Bu?” kata si Ibu,” Iya ada nalurinya, biasanya kalau sudah merasa akan menyusui, si bayi sudah lapar dan memang saatnya untuk minum susu”. Aku jadi inget, dulu pas pernah jadi baby sitter sehari (gini2 pernah jagain bayi he), pernah si bayi nangis tiba-tiba, padahal ibunya lagi ikutan seminar, eh udah ditimang-timang gak berhenti juga, wah harus sms ibunya, takut kenapa-kenapa, pas masih ngetik sms…eh ibunya datang…”Wah-wah laper ya…emang udah saatnya” si bayi diambil dan minum susu dari ibunya. Aku hanya terbengong-bengong…”Lho kok Ibu langsung ke sini, apa tangisannya kedengeran?” si Ibu bilang, “Enggak kok mba, emang sudah ngerasa aja waktunya menyusui nih.” Subhanallah filling seorang ibu…

Back to Bu Farah…

Jadi ceritanya, Bu Farah ini heran sama ibu-ibu yang masih aja pakai susu formula dengan alasan ASInya sedikit atau bahkan tidak keluar, karena menurut ibunya, ASI itu akan secara alami keluar menurut kebutuhan si bayi. Jika bayinya terus-terusan minum ASI (karena si ibu memprogramkan ASI eksklusif) maka dijamin si Ibu tidak akan kekurangan ASI karena selalu terjadi pembentukkan ASI dalam tubuh ibu disesuaikan dengan kebutuhan si bayi. Masalahnya ada ibu yang beranggapan ASInya sedikit jadi anaknya dikasih susu formula aja, nah inilah kekeliruannya..Ketika si bayi diberi susu formula sebagai pendamping ASI, otomatis kebutuhan ASI bayi akan berkurang karena sudah sebagian digantikn oleh susu formula. Karena kebutuhan ASI yang sedikit, maka pembentukan ASI di dalam tubuh si ibu juga berkurang. Nah inilah yang menyebabkan anggapan ASInya sedikit. Padahal yang sebenarnya produksi ASI akan menyesuiakan kebutuhan si bayi. Gitu temen2…(aku juga baru tau)

Nah yang disayangkan lagi, kadang setelah melahirkan ada suster atu bahkan dokter yang bertanya di hadapan ibu yang baru melahirkan, “ASInya keluar gak?” padahal pertanyaan ini gak perlu dilontarkan, karena ya pasti keluar, namun emang pembentukan ASI itu diawali dengan pembentukan kolostrum dulu, sehingga ASInya memang belum siap keluar. Kalo baru melahirkan ya belum keluar… tapi dengan statemen satu pertanyaan seperti ini, bisa membuat down si Ibu, apalagi yang gak tau apa itu kolostrum, sehingga ketika dia merasa ASInya tidak keluar (padahal masih kolostrum) dia akan berpikir pakai susu formula saja, dari sinilah ketika bayi sudah diberi susu formula produksi ASI pun akan menjadi sedikit…

Nah…begitulah ibu-ibu dan calon ibu-ibu jangan salah kaprah tentang ibu yang tidak mengeluarkan ASI, karena secara fitrah akan keluar. Karen ASI adalah makanan terbaik untuk si bayi sehingga Allah menjadikannya fitrah (pengecualian bagi ibu-ibu yang punya kelainan kali ya…-baca: punya penyakit atau gangguan pada kesehatan-)

Semoga bermanfaat yang sedikit ini…

Obrolan masih berlanjut ke topik selanjutnya,,,masih dalam tema berkeluarga haha….perjalanan sudah masuk ke Tol Cikampek, barulah kantuk menyergap…zzzztttt….*_*

Kamis, 03 Februari 2011

Penyebab Mahasiswa Gagal Ujian

Just a Joke,,, diambil dari artikel di “Protein 43” bulan Juni 2009 edisi Minggu I (jadi kangen sama buletin kelas TIN 43 yang dulu sangat ekziz ini,,,Infokom Rohis TIN 43 apa kabarnya ya?)

Penyebab Mahasiswa Gagal dalam Ujian

Kalau dilihat dari logika, sebenarnya bukan salah sang siswa bila ia tidak lulus ujian, karena belajar pun tidak sempat…

Tahukah Anda, setahun itu hanya terdapat 365 hari? Yang kita tahu sebagai tahun akademik siswa…. Mari kita hitung!

Hari minggu: 52 hari dalam setahun. Anda pasti tahu kalau hari minggu adalah untuk istirahat. Hari tersisa tinggal 313.

Hari Libur (Nasional dan Internasional): Tak kurang dari 13 hari libur setahun. Hari tersisa tinggal 300.

Liburan sekolah: Jelaz semua mahasiswa akan berlibur dan tidak akan belajar biasanya sekitar 2 bulan lebih,anggaplah sekitar 60 hari. Hari tersisa tinggal 240.

Tidur 8 jam sehari untuk kesehatan: berarti 120 hari terpakai. Hari tersisa tinggal 120.

Tentu kita beribadah kan? Paling tidak 1-2 jam kita beribadah, kita alokasikan 25 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 95.

Bermain yang juga baik untuk kesegaran dan kesehatan, paling tidak memrlukan 1 jm sehari. Terpakai lagi 15 hari. Hari tersisa tinggal 80.

Makan, paling tidak selama satu hari kita habiskan 2 jam untuk makan/minum (makan pagi, siang, sore), hilang lagi 30 hari. Hari tersisa tinggal 50.

Jangan lupakan, manusia adalah makhluk sosial, butuh berinteraksi dengan orang lain, kita ambil 1 jam per hari untuk berbicara. 15 jam terpakai lagi. Hari tersisa tinggal 35.

Kita pun bisa sakit: paling tidak 5 hari dalam setahun, sudah cukup mewakili. Hari tersisa tinggal 30.

Ujian itu sendiri biasanya dilaksanakan selama 2 minggu per semester berarti, 24 hari sudah teralokasikan untuk ujian. Hari tersisa tinggal 6.

Nonton dan jalan-jalan paling tidak 5 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 1.

Satu hari yang sisa itu kan HARI ULANG TAHUN aliaz MILAD kita!!! “Masa” belajar sih????

(hehe…once again, it’s just a joke)

Kamis, 13 Januari 2011

BIARKAN TEGURAN ITU DATANG

Khudzaifah bin Al Yaman ra dalam suatu kesempatan, mendatangi sahabatnya, Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Tidak seperti biasanya, Khudzaifah yang juga disebut shahibus sirri (penyimpan rahasia) Rasulullah saw itu mendapati Umar dengan raut muka yang muram, penuh kesedihan. Ia bertanya, “Apa yang sedang engkau pikirkan wahai Amirul Mukminin?”

Jawaban Umar sama sekali tidak terduga. Kesedihan dan kegalauan hatinya, bukan karena banyaknya masalah rakyat yang sudah pasti membuatnya letih. Kali ini, Umar justru tengah khawatir memikirkan kondisi dirinya sendiri. “Aku sedang takut bila aku melakukan kemungkaran, lalu tidak ada yang melarangku melakukannya karena segan dan rasa hormatnya kepadaku,” ujar Umar pelan. Sahabat Khudzaifah segera menjawab, “Demi Allah, jika aku melihatmu keluar dari kebenaran, aku pasti akan mencegahmu”. Seketika itu, wajah Umar bin Khattab berubah senang. “Alhamdulillah Yang menjadikan untukku sahabat-sahabat yang siap meluruskanku jika aku menyimpang,” katanya.
Seperti itulah Umar. Jika banyak orang gusar dan marah mendapat teguran atas kesalahan yang dilakukannya. Tapi ia justru menginginkan teguran. Khalifah kedua setelah Abu Bakar ra itu justru ingin kesalahannya diketahui orang lain, untuk kemudian ditegur dan diluruskan. Subhanallah…

Berterus terang kepada diri sendiri atas kesalahan yang dilakukan bukan hal yang mudah. Terlebih mengaku berterus terang kepada orang lain dan menerima kesalahan yang dilakukan. Lebih sulit lagi, menerima teguran orang lain atas kesalahan. Tapi sebenarnya, teguran atas kesalahan itu kita perlukan. Al Qur’an memberi banyak ilustrasi tentang ajakan bermuhasabbah, mengevaluasi diri dan teguran langsung atas kesalahn. Metode muhasabah dan eguran yang ada dalam ayat-ayat Al Qur’an, mengajak kita mau mengakui semua perbuatan dengan jujur dan tulus. Agar kita terbiasa berterus terang mengungkap berbagai kesalahn kepada diri sendiri. Memeriksa noda-noda kesalahan dan kekeliruan yang ada lalu mengakuinya. Bukan untuk membesar-besarkan kesalahan dan membuat diri menjadi gelisah, tetapi agar kita mengetahui kadar kebaikan dan keburukannya. Inilah makna yang dimaksud dalam perkataan Said bin Jubair saat ia ditanya, ”Siapakah orang yang paling hebat ibadahnya?” Ia menjawab, “ Orang yang merasa terluka karena dosa dan jika ia ingat dosanya ia memandang kecil amal perbuatannya.” (Az Zuhdu, Imam Ahmad,387)

Perhatikanlah bagaimana para sahabat ra dalam Perang Uhud mendapat teguran langsung dari Allah swt, saat mereka terluka dan mengalami situasi tertakan dan sulit. Ketika itu turun firman Allah swt,” Sesungguhnya orang-orang yang berpaling diantara kaian pada hari bertemu dua pasukan itu, mereka digelincirkan oleh setan karena sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau). Dan sesungguhnya Allah telah mengampuni mereka…”(Q.S Ali Imran 155). Lihatlah juga di saat bagaiman Allah swt menegur langsung lewat firmanNya surat Ali Imran 165. “… kalian berkata: ”Dari mana datangnya kekalahan ini?” Katakanlah: “ Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Perhatikanlah bagaimana Allah swt menegur para sahabat dalam peperangan Hunain.”…Dan (ingatlah) peperangan Hunain, di waktu kalian menjadi sombong karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak member manfaat kepada kaian sedikitpun…” (Q.S At Taubah: 25)
Maksud teguran langsung tersebut adalah membangkitkan suasana muhasabah, mengangkat kejujuran dan keterbukaan yang bias menjadikan seseorang mampumengambil pelajaran dari kekeliruan dan kesalahannya. Musharahah atau keterusterangan untuk mengakui kesalahan adalah langkah paling awal untuk memulai perbaikan.

Teguran itu pahit. Tapi cobalah lebih jauh merenungi, pentingnya teguran atas kesalahan. Ustadz Abdul hamid Al Bilali, dalam Waahaat Al Liman, menguraikan banyak hal tentang akibat dosa dan kesalahan yang dilakukan terus menerus adalah sikap tidak merasa berdosa dan tidak merasa bersalah. Perasaan tidak bersalah dan tidak berdosa itu sendiri, bias disebabkan kondisi akrab dengan dosa tertentu yang terlalu sering dikerjakan. Situasi inilah yang paling ditakutkan Al Hasan Az Zariyat rahimahullah. Ia mengatakan, “ Demi allah, aku tidak peduli dengan banyaknya kemungkaran dan dosa. Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Sebab jika sesuatu dikerjakan dengan rutin, maka jiwa menjadi akrab dengannya dan jika demikian, jiwa tidak memiliki kepekaan lagi.” (Tanbiihu Al Ghafiliin,93).

Camkan nasihat yang dituturkan Imam Ibnul Jauzi dalam Shahidul Khatir,”Ketahuilah, ujian paling besar bagi sesorang adalah merasa aman dan tidak mendapatkan siksa setelah mengerjakan dosa. Bisa jadi hukuman datang belakangan. Dan hukuman paling berat adalah jika seseorang tidak merasakan hukuman itu. Sampai hukuman itu menghilangkan agama, mencampakkan hati hingga tak bisa menentukan pilahan yang baik. Dan, diantara efek hukuman ini adalah sesorang tetap melakukan dosa sedangkan tubuh segar bugar dan seluruh keinginannya tercapai.” (Shahidul Khatir). Naudzubillahi mindzalik..

Ditulis kembali dari Nasihat Ruhani , Tarbawi Edisi 135 Th 8/ Jumadil Akhir 1427 H/ 20 Juli 2006 M