Jumat, 27 Agustus 2010

Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat?

iseng-iseng, nemu artikel menarik di holaqoh-online.com, letz cekidotzz (^_^ baca sambil senyum2)...


Rabu, 05 November 2008 22:37 Ayat Al Akrash

Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga siapa saja berpeluang untuk memasuki strata taqwa.

Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71)

Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai LDK kampus tentang sedikit ‘konfrontasi’ ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.

Patut menjadi catatan, mengapa ADK akhwat selalu lebih banyak dari ADK ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Meski memang hidayah itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.

Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri? Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa LDK, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.

Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih. Nah!

Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.

(G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.

(A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.

(N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.

(T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.

Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan. “Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.

(E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.

Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”

(N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.

(G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.

Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)..." (QS. An-Nisa':34).

Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin. []

PS : Ayo kita budidayakan (memangnya ternak???) ikhwan GANTENG ini. Dan pada pembahasan selanjutnya, dapat dikupas tentang akhwat CANTIK. Nah, untuk ini, biarkan ikhwan yang menulis ^ _ ^


Selasa, 17 Agustus 2010

Antara Suka dan Tidak Suka

Suka dulu….

Hal-hal yang menyenangkan hati, siapa yang tidak suka…seperti dapet undian haji gratiz, wisuda sesuai target, kerja di tempat yang pw, apa-apa terpenuhi, punya suami ganteng (hahaha,,,ganteng akhlaknya juga), dan lain-lain-lain….siapa yang tidak suka… Impian yang tercapai siapa yang tidak suka….? itulah yang dinamakan sebagai NIKMAT.

Yang tidak suka…

Siapa yang suka sakit, dapet nilai jelek, hapenya hilang, uangnya habis, penelitiannya lama (hihi), targetnya sering tak kesampaian??? Hayyo siapa yang suka dalam kondisi seperti ini? Paztinya jawabannya “NDAK SUKA DEH….!” Ya iyalah, siapa juga yang suka dalam kondisi yang “tidak baik” tersebut. Sudah fitrahnya manusia itu menyukai hal-hal yang menyenangkan hati dan tidak suka hal-hal yang membuat hidupnya semakin terpuruk dan terhimpit (elbiway...)

Padahal ya…

Suka dan tidak suka itu sama-sama NIKMAT dari Allah. Bedanya kalau yang menyenangkan hati itu adalah nikmat yang kita sukai dan yang satunya, yang menyedihkan adalah nikmat yang tidak kita sukai (biasanya disebut ujian). Sekarang benar-benar main perasaan, namanya juga manusia…

Dalam Qs AlBaqarah:216

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Sudah sangat jelas…disampaikan oleh Allah langsung…hal-hal yang mungkin tidak kita sukai justru sebenarnya adalah yang terbaik bagi kondisi manusia saat itu…Wallahu’alam kan hanya Allah saja yang tahu benang merah kehidupan kita. Siapa tahu dengan diturunkan hal-hal yang tidak kita sukai dalam hidup bisa memberikan kesukaan atau manfaat bagi orang lain (tanpa kita sadari). Karena hidup itu sebenarnya adalah hubungan sebab akibat (belajar banyak dari novel bagus Rembulan Tenggelam di Wajahmu, yang kubaca pas masa-masa UTS semester 6 hehe bandel).

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahnan. Dan samapikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, merka berkata Innalillahi wa inna ilaihi roji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali. Meraka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Qs Al Baqarah:155-157)

Dan bergembiralah orang-orang yang mendapat nikmat yang dia tidak sukai itu…karena jika dia berhasil melalui semua ujian dengan sabar maka ketakwaan akan menjadi gelarnya yang sangat terhormat…Barakallahulakum…

Kamis, 08 Juli 2010

Alon-Alon Asal Kelakon (Edisi Jawa)

Ungkapan orang Jawa yang keren banget (terlalu bangga) menggambarkan watak orang Jawa yang sabar, ulet (bukan ulet bulu) dan teliti (iya gak ya?)
Kadang orang yang stres itu adalah hanya ketika dia belum mengerjakan apa yang dipikirkannya...jadi stres muncul dari pikirannya saja, belum bertindak dan belum mengerjakan apa-apa, perasaan yang memainkan pikiran, bisa dibilang. Khawatir duluan, mudah cemas padahal belum ngerjain apa-apa...(dasar).
Bedanya dengan orang yang tidak mudah stres adalah orang yang perlahan tapi pasti mengerjakan apa yang ada di dalam pikirannya, dia tidak berpikir macam-macam akan resiko dan segala tetek bengek kendala (karena setiap tindakan pasti ada resiko, jadi itu adalah sesuatu kewajaran), bisa memenej pikiran dan perasaan sehingga yang dihasilkan adalah gerak nyata, mampu berpikir it's gonna be okey... serta yang terakhir mampu berpikir dan menerapkan alon-alon asal kelakon (jangan sampai dibalik alon-alon ora kelakon).

Termasuk contoh kasus di dunia nyata, ada seorang mahasiswi semester akhir yang sedang penelitian, di ujung penelitiannya ternyata dia menemui kendala data jelek (wew...), dan solusinya ya...mengulang data-data yang buruk tersebut...kalau cuma mau dipikir ya bisa stres sendiri, uring-uringan, mual liat data, anti pegang laptop (padahal pegang doang coba?!) dan walhasil gak bakal selesai tuh skripsi alias gak solutif banget.
Memang diakui untuk memulai dari awal itu beratnya minta ampun...tapi kalo gak mulai dari awal masak mulai dari akhir (geje), maka dari itu terapkanlah prinsip "alon-alon asal kelakon"...walaupun labnya sudah krik...krik...krik mana undangan sidang banyak berdatangan... si mahasiswi tersebut di atas haruslah mengerjakan apa yang harus dikerjakan (demi dua buah kata "data ideal").

Contoh kasus di atas hanya sebuah cuplikan kisah hidup yang bisa diambil hikmahnya...
"Alon-alon asal kelakon" memiliki energi positif untuk kita senantiasa bergerak (karena diam artinya mati, katanya) dan juga bersikap sabar atas segala ujian yang Allah berikan...

(yang gak tau artinya alon-aln asal kelakon, angkat tangan!) buat yang non jawa, artinya pelan-pelan yang penting dikerjakan...gitu je...

Rabu, 09 Juni 2010

Ringkasan SEMINAR

Rizka Ardhiyana. F34062282. Biodelignifikasi Substrat Limbah Tanaman Jagung sebagai Bahan Baku Pembuatan Bioetanol Menggunakan Kapang Pelapuk Putih Trametes versicolor. Dibawah Bimbingan Ani Suryani dan Djumali Mangunwidjaja.


RINGKASAN

Arah pengembangan bioetanol mulai berubah ke arah pengembangan bioetanol generasi kedua, yaitu bioetanol dari biomassa lignoselulosa. Biomassa lignoselulosa di Indonesia, melimpah, murah, tapi juga banyak yang disia-siakan. Ada banyak potensi biomassa lignoselulosa di Indonesia, salah satunya adalah limbah tanaman jagung (yang terdiri dari seluruh bagian tanaman jagung itu sendiri).

Dalam proses konversi biomassa berligniselulosa menjadi etanol, ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Karena komposisinya yang terdiri dari lignin, hemiselulosa dan selulosa, maka ketiga bahan ini harus dipisahkan lebih dulu supaya penetrasi enzim selulase dalam menghidrolisis selulosa menjadi lebih mudah, rendemen gula yang dihasilkan tinggi sehingga rendemen etanol dari fermentasi gula juga tinggi. Proses pemisahan ini dapat dilakukan secara fisis, kimia, biologis, maupun kombinasi ketiganya yang biasa disebut perlakuan pendahuluan dalam pengubahan biomassa menjadi etanol. Masalah utama yang dihadapi dalam proses pemisahan ini adalah sulitnya memisahkan lignin dari bahan yang disebabkan oleh ikatan lignin dengan komponen lain dalam biomassa berlignoselulosa sangat kuat

Salah satu proses biologis biomassa berlignoselulosa dalam pemisahan lignin dari bahan adalah dengan menggunakan jamur pelapuk putih (white-rot fungi). Penggunaan jamur pelapuk putih bertujuan untuk merombak kadar lignin bahan berlignoselulosa sehingga memudahkan perombakan selulosa menjadi gula sederhana yang selanjutnya difermentasi menjadi etanol. Salah satu jamur pelapuk putih adalah Trametes versicolor yang menghasilkan beberapa enzim perombak lignin, yaitu laccase, manganese peroxidase, dan lignin peroxidase (Hossain and Anantharaman, 2006).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk kondisi optimal biodelignifikasi limbah tanaman jagung sebagai bahan baku pembuatan bioetanol dengan metode RSM. Parameter yang akan diuji adalah: kadar air, kadar ekstraktif, kadar lignin (klakson lignin), kadar holoselulosa, dan kadar alfaselulosa. Perlakuan yang diberikan berupa waktu ( 0,88, 7, 18,5, 25, dan 31 hari), suhu (18,30,50,70,82ºC) dan pembebanan jamur (0,32; 2,5; 6,25; 10; 12,5 ml).

Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan didapatkan hasil data sampel awal (bahan baku mentah limbah tanaman jagung) yaitu kadar air: 0,0085 g, kadar ekstraktif: 0,0500 g, kadar lignin: 2,1332 g, kadar holoselulosa: 5,7719 g. Sedangkan untuk sampel hasil biodelignifikasi sementara untuk perlakuan yang menghasilakan kadar lignin terendah (0,8757 g/sampel setelah biodelignifikasi) adalah P1(2) dengan kombinasi perlakuan waktu: 7 hari, suhu: 70 ºC, dan pembebanan jamur: 2,5 ml. Sedangkan perlakuan yang menghasilkan holoselulosa tertinggi (5,4204 g/sampel setelah biodelignifikasi) adalah P1(1) dengan kombinasi waktu: 0,88 hari, suhu: 30 ºC, dan pembebanan jamur: 2,5 ml.

Sabtu, 24 April 2010

Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Imam Ibnul Qayyim berkata:
"Ingkar terhadap kemungkaran itu ada empat tingkatan, yaitu:
> Kemungkaran itu hilang dan berganti dengan kebaikan.
> Kemungkaran itu berkurang, meski tidak hilang secara total.
> Kemungkaran itu berganti dengan kemungkaran yang sebanding.
> Kemungkaran itu berganti dengan yang lebih munkar dari sebelumnya.
Dua tingkat pertama itulah yang disyariatkan, sedangkat yang ketiga masih diperselisihkan dan yang ke empat diharamkan..."

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah - semoga Allah memuliakn ruhnya dan menyinari kuburnya- berkata:
"Pada masa penyerbuan tar-tar, saya dan sebagiann sahabatku bertemu beberapa orang dari kalangan mereka (tar-tar) yang sedang minum khmr, lantas sahabat-sahabatku mengingkari mereka, maka saya menegur dan berkata kepada sahabat-sahabatku," Sesungguhnya Allah mengharamkan khamr karena ia dapat menghalang-halangi manusia dari dzikir kepada Allah dan menjalankan shalat, sementara mereka terhalang oleh khamr dari membunuh kaum muslimin, menawan anak-anak dan merampas harta. karena itu, biarkanlah mereka".

Dalam beramar ma'ruf nahi munkar pun kita harus memegang kaidah-kaidahnya, sehingga objek dakwah kita tidak keburu kabur dan mengecap kita orang yang sok ngatur ( karena mayoritas orang tuh gak suka digurui). jangan sampai amar ma'ruf nahi munkar yang kita sampaikan malah menjadikan kemungkaran yang lebiiiih besar (pemboikotan terhadap dakwah mungkin), naudzubillahimindzalik...

Rasul pun mengajarkan kita untuk menyampaikan sesuai dengan bahasa mereka. Sehingga kita dituntut untuk lebih memahami objek dakwah untuk mengetahui metode atau jurus jitu yang bisa dipakai untuk mengajak mereka. Tidak masalah jika kita menjadi orang lain (selama masih dalam koridor syar'i, ingat harus tetap syar'i) dengn tujuan dakwah kita bisa diterima oleh sang objek.

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (Q.S An Nahl: 125)

Sabtu, 10 April 2010

Belajar Tegar dari Orang-Orang di Sekitar Kita


“Dunia ini terlalu sempit bila hanya diwarnai oleh kehidupan pribadi diri kita sendiri” begitulah ungkapan yang menurutku pas untuk pembelajaran yang tiada henti dari setiap kehidupan yang kujalani ini. Rugi deh bila sisa hidup kita ini hanya dihabiskan untuk mengurusi sisi-sisi kehidupan kita saja tanpa mau melihat dan mengerti ‘kehidupan lain’ yang ada di sekitar kita. Kehidupan lain yang dimaksud disini bukan dalam pengertian dunia makhluk ghaib ya…kalo itu ilmunya belum nyampe deh…gak jauh-jauh kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan teman-teman kita sendiri.

Susah untuk orang yang tidak peka
Mungkin salah satu kekurangan orang yang bersifat dominan pleghmatis adalah susah untuk lebih peka terhadap keadaan sekitar, karena ini yang kurasakan sendiri (hehe) orang plegmatis itu cenderung untuk cuek dan tidak mau berpikir yang berat-berat yang bisa membuat kepalanya panas (heuh buruk banget). Tapi di sisi lain, orang plegmatis yang dituntut untuk bisa lebih peka pun akan mencoba peka dan solider terhadap keadaan yang sedang berkecamuk, disinilah sebenarnya aku kurang setuju dengan teori yang mengelompokkan orang berdasarkan 4 kelompok besar (sanguinis, melankolis, plegmatis, dan korelis), toh dalam kenyataannya tidak selalu saklek dengan teori itu. Orang plegatis bisa saja berubah menjadi korelis, sangunis bisa jadi melankolis, atau perpaduan kedua sifat, ketiga sifat, atau bahkan keempat sifat. Karena sebenarnya yang mempengaruhi keadaan psikologinya adalah lingkungan.

Termasuk orang plegmatis yang lingkungannya menuntut dia untuk lebih peka dan toleran juga akan merasakan kesensitifan dalam berpikir dan bergerak. Sulit memang tapi bisa terus belajar. insyaAllah…
Dengan bisa lebih menyelami kehidupan orang lain inilah akan terbangun suatu revolusi dalam diri sendiri yakni kesyukuran yang tiada tara serta keteladanan dan pembelajaran dari kisah hidup orang-orang itu.
Ada beberapa hal yang membuat seseorang bisa menyelami kehidupan orang lain:
1. karena sudah tugasnya (ada ya…?) ya pasti ada lah…
2. karena keterbukaanya, sehingga orang lain pun tak segan untuk terbuka dengannya.
3. karena ketidaksengajaan, mungkin karena banyak orang yang merasa aman bila bercerita dengannya, mungkin salah satu sifat orang yang plegmatis juga adalah menjadi pendengar yang baik (meskipun orang plegmatis itu sangat lemah di audio, hehe).

Tegar dari mereka…
Ada beberapa kisah hidup dari teman-temanku sendiri (serius) yang menjadikan hal itu sebagai ibroh yang tak tak ternilai dan suatu anugerah luar biasa ketika bisa mengetahui secara langsug dari orangnya sendiri, tentang perjuangannya, tentang ketegarannya, tentang prinsip hidupnya, tentang pengorbanannya, tentang pengabdiannya dan tentang jiwa kepahlawanannya. Terkadang bila mendengar kisahnya dan membandingkan dengan kisah hidup diri sendiri akan terasa sangat berbeda dan jauh sekali, namun sekali lagi hal itulah yang membuat aku belajar dari pengalaman hidupnya. Orang mungkin tak akan percaya bila mengetahui kisah hidupnya yang teramat pelik karena dalam kesehariannya dia terlihat biasa-biasa saja. Itulah mungkin salah satu karakter orang mulia dan tangguh yang mampu menyembunyikan penderitaan dan perjuangannya …

Dia tidak ingin banyak orang yang tahu sehingga membuat dia melemah dengan keadaan hidup yang sebenarnya jauh dari harapannya tersebut. Namun di balik kehidupannya itulah dia telah diajarkan sebuah nilai-nilai menjadi manusia yang tegar dan tangguh. Di sinilah Allah langsung mengajarinya nilai-nilai heroik lewat kehidupannya, subhanallah.

Mungkin banyak diantara kita yang tidak tahu bahwa sebagian teman-teman kita berjuang mati-matian untuk bedakwah kepada keluarganya (sampai-sampai dibenci oleh keluarga besarnya sendiri), membanting tulang setelah kuliah untuk membiayai kehidupannya, kehidupan keluarga yang banyak masalah, tekanan dari keluarganya sendiri, tuntutan keluarga, kesabaran yang tiada putus mengarungi nasib, dan masih banyak permasalahan hidup yang tidak membuat mereka gentar namun justru berusaha bertahan dan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, tanpa banyak orang yang tahu.

Beberapa orang, temanku sendiri dan orang terdekatku, kisah hidup mereka mengajarkanku suatu realita kehidupan yang lain. Yang sebenarnya bisa saja terjadi dalam kehidupan pribadiku. Allah sangat cintanya Ia kepada mereka , sehingga membuat kesabaran menjadi tangga yang mereka naikki menuju taqwa yang sempurna.

Dari sebuah hadist: Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Nabi Saw menjawab, "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).

Janji Allah itu pasti saudara-sadariku… terimakasih banyak telah mengajariku ‘sisi kehidupan yang lain dari yang biasanya’